Minggu, 11-02-2018 jam, 05:54:53

Onderdil Pesawat Lion Air Bermasalah

Onderdil Pesawat Lion Air Bermasalah
Pesawat Lion Air saat parkir di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. //FOTO : DENAR/KALTENG POS

SEBANYAK 211 penumpang pesawat Lion Air sempat terkatung-katung empat jam lebih di Bandara Tjilik Riwut, Sabtu (10/2) pagi. Mereka batal berangkat dengan pesawat Boeing 737 JT 671 tujuan Jakarta pukul 06.30 WIB, karena komponen alias onderdil pesawat rusak.  Manajer Lion Air Kalselteng, Agung, mengatakan pesawat JT 671 gagal memberangkatkan penumpang dari Palangka Raya ke Jakarta karena ada spare part pesawat yang harus diganti. Dia juga membenarkan, status penerbangan saat itu sudah persiapan dan status penumpang waiting room. Namun, setelah pengecekan lebih lanjut ada indikator yang menunjukkan adanya ketidaknormalan.

“Karena ini kejadiannya tidak terduga. Ketika di-crosscheck ada indikator pesawat yang abnormal. Sehingga perlu pengecekan lebih lanjut. Sehingga demi keselamatan dan keamanan, karena kami ragu, harus melakukan crosscheck lagi. Pesawat buatan Boeing, Amerika. Jenis pesawatnya Boeing 737 900ER buatan tahun 2010,” jelasnya kepada Kalteng Pos, Sabtu (10/2).

Dia mengungkapkan, dalam pesawat milik mereka ada sensor-sensor yang melakukan pemantauan otomatis terhadap kondisi pesawat. Meski sudah berusia delapan tahun, ketika ada yang tidak sesuai (tidak normal) maka sensor tersebut memberi tahu. “Di pesawat itu ada memiliki sensor-sensor. Dari sensor itu ada indikator yang abnormal dan ternyata ada spare part pesawat yang harus diganti. Spare part pesawatnya kami ganti baru dan kami datangkan dari Jakarta. Pesawat sudah diperbaiki dan terbang ke Surabaya,” tukas dia.

Dengan keadaan seperti itu, mereka tidak berani menerbangkan pesawat demi keselamatan dan keamanan penumpang. Sesuai aturan, sambung Agung, jika ada indikasi pada keselamatan penerbangan maka tidak boleh terbang.“Memang tidak boleh terbang sesuai dengan aturan penerbangan. Kalau di pesawat itu ada yang abnormal berdasarkan standar keselamatan, kami tidak boleh menerbangkan, meskipun itu hal kecil. Ini sebagai bukti kami mengutamakan keselamatan dan keaman penumpang. Kalau hanya mikir bisnis kami pasti rugi, tetapi kami tidak seperti itu,” ungkap dia.

Dia mengungkapkan, semua hal terkait penumpang sudah diakomodir oleh Lion Air. Tidak ada permasalahan lagi. Lion Air menyesuaikan dengan keinginan penumpang.

“Sudah terakomodir semua. Kami tergantung dari kebutuhan penumpang, kalau ada connecting penerbangan maka diterbangkan dengan pesawat lain seperti Garuda. Kalau ada penumpang minta refund kami kembalikan tanpa potongan. Penerbangan yang bisa dijangkau Lion Air lain, kami akomodir dengan penerbangan kami. Kompensasi lain mereka dapat snack dan makan sesuai ketentuan kompensaai pada peraturan pemerintah nomor 189,” terang dia.

Ditambahkannya, pemberangkatan penumpang 211 pesawat JT 671 dilakukan bertahap. Ada yang diberangkatkan pada penerbangan selanjutnya, ada yang membatalkan penerbangan dan minta diganti, ada yang dipindahkan ke maskapai lain karena ada penerbangan selanjutnya. “Sisa penumpang tujuan Jakarta yang seharusnya berangkat pukul 06.30 WIB diberangkatkan dengan pesawat pengganti dari Surabaya pukul 11.00 WIB. Yang berangkat pukul 11.00 WIB itu jadi sisa pax nya sebanyak 168. Sementara yang transfer pax ke Garuda 10 pax, yang refund 15 pax, 8 pax move to next flight, 5 pax change schedule to other day,” jelas dia.

Bermasalahnya pesawat tersebut, membuat penumpang protes. Agustining Zaitu mengaku sudah menunggu sejak pagi di bandara dengan alasan dan baru berangkat pukul 12.00 Wib. “Ini baru berangkat, kata mereka bandara dapat dispensasi keterlambatan penerbangan, jatah makan dan pengurang harga, dengan syarat mengisi formulir,” katanya pria berkacamata tersebut saat dibincangi di Bandara Tjilik Riwut dengan menunjukan formulir yang sedang dipeganggnya.

Atas kejadian ini, Plt Sekda Kalteng Fahrizal Fitri menegaskan manajemen maskapai penerbangan diminta lebih hati-hati dan melayani dengan baik penumpang. Pasalnya, kejadian itu menjadi tendensi negatif bagi penerbangan. Padahal, Kalteng sedang bergelora untuk pembangunan yang mesti mendapat dukungan dari sektor penerbangan.  "Karena itu kebijakan manajemen, kami imbau pihak manajemen antisipasi yang bisa terjadi penundaan," ujarnya, kemarin.

Dilanjutkannya, memang pihaknya tidak bisa memberikan teguran kepada maskapai. Namun, pihaknya juga bisa menyampaikan keluhan tersebut ke Kementerian Perhubungan apabila kejadian tersebut terulang.

"Karena itu regulasinya ada di kementerian, biar kementerian perhubungan yang mengevaluasi mereka,” ujarnya seraya mengatakan Pemprov juga berupaya agar kedepannya fasilitas bandara bisa ditingkatkan, terlebih di Bandara Tjilik Riwut sedang dilakukan pembangunan bandara, dan saat ini pihaknya sedang mengupayakan penambahan jadwal penerbangan. (uni/ndo/ami/abe/dar)PENUMPANG SEMPAT TERLANTAR

Sebanyak 211 penumpang pesawat Lion Air Boeing 737 JT 671 tujuan Jakarta menunggu berjam-jam di Bandara Tjilik Riwut, Sabtu (10/2)

Status penerbangan sudah persiapan dan status penumpang waiting room

Pesawat Boeng 737 900ER buatan Amerika 2010, terdeteksi ada peralatan harus diganti

Pesawat sudah diperbaiki dan terbang ke Surabaya

211 penumpang pesawat Lion Air JT 671 dilakukan bertahap, ada yang membatalkan penerbangan dan minta diganti, ada yang dipindahkan ke maskapai lain karena ada penerbangan selanjutnya

4 jam lebih menunggu, penumpang tujuan Jakarta seharusnya berangkat pukul 06.30 Wib baru diberangkatkan pesawat pengganti dari Surabaya pukul 11.00 Wib

168 penumpang transfer ke Garuda 10 orang, minta pengembalian biaya tiket 15 orang, pindah penerbangan selanjutan 8 orang dan 5 orang pindah penerbangan hari lain