Kamis, 15-02-2018 jam, 08:36:13

Ratusan Hektare Lokasi Pertanian Terbengkalai

Ratusan Hektare Lokasi Pertanian  Terbengkalai
Lokasi pertanian padi di P4S Karya Baru, Desa Kubu ketika masa panen, sekarang masyarakat setempat kesulitan mengelola lahannya. //DOK/ KALTENG POS

Larangan membuka lahan dengan cara dibakar, ternyata berdampak cukup besar bagi masyarakat, karena selama ini petani rata-rata membuka lahan untuk bercocok tanam adalah dengan dibakar. Praktis, ketika muncul larangan, petani akhirnya kelimpungan.

KOKO SULISTYO, Pangkalan Bun

SEJAK membuka lahan pertanian dengan pola bakar dilarang pemerintah, ratusan hektare (Ha) lahan pertanian warga Desa Sebuai Barat, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terbengkalai. Terbengkalainya lahan akibat warga tak mampu mengolah lahan dengan cara manual, yakni dengan pola tebas dan simpuk, selain membutuhkan biaya besar, pengolahan lahan tanpa bakar juga membutuhkan waktu lama.

Akibat larangan ini, warga desa Sebuai banyak yang meninggalkan desanya untuk mencari penghidupan di luar, dengan menjadi buruh sawit dan pekerjaan lainnya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.Kepala Desa Sebuai Barat, Kecamatan Kumai, Rusli saat dihubungi Kalteng Pos mengatakan bahwa pada bulan Februari ini seharusnya sudah memasuki masa tanam, namun hingga saat ini warga belum bisa mengerjakan lahannya sementara mereka harus menanam padi.

Kebijakan larangan buka lahan tanpa bakar merupakan kebijakan tanpa solusi, sehingga dampaknya kepada masyarakat. Saat ini lahan di wilayahnya sejak dua tahun ini terbengkalai dan kembali menjadi hutan kembali akibat menaati peraturan pemerintah."Kami berusaha menaati peraturan pemerintah yang diterbitkan tapi karena tidak ada solusi maka para petani yang dirugikan, harusnya karena imbasnya luar biasa kepada petani bantuan berupa beras untuk warga karena kehilangan mata pencaharian harus ada, nah karena bantuan tidak ada maka petani mengeluh semuanya," ujarnya, Rabu (14/2).

Selaku kepala desa menyikapi kesulitan warganya ia akhirnya melakukan koordinasi dengan Bupati Kotawaringin Barat, Hj Nurhidayah untuk meminta solusi agar persoalan tersebut tidak menjadi dilematis. Hasil dari koordinasi yang dilaksanakan bupati meminta agar masyarakat agar tetap membuka lahan dengan pola tanpa bakar, dengan membuka secara bertahap.

Rusli juga menyampaikan hasil koordinasi yang dilaksanakan, pemerintah daerah melalui dinas terkait pada Minggu lalu tepatnya Jumat (9/2) telah meminjamkan traktor mini untuk membuka lahan. Namun ia pesimis karena lahan di Desa Sebuai Barat masih merupakan lahan yang belum jadi sehingga banyak akar - akar kayu besar yang masih terdapat di lokasi.

"Kami sudah dipinjamkan satu ekskavator mini tapi engga tahu nanti mampu apa engga," ujarnya pesimis.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini lahan pertanian masyarakat Desa Sebuai Barat yang terbengkalai totalnya mencapai 1.135  hektar yang terdiri dari lahan satu seluas 735 hektar dan di lahan dua ada 400 hektar dengan produksi beras per hektarnya mencapai 2 ton gabah.

Menurutnya, kalau nantinya di musim tanam ini ternyata menggunakan traktor mini tidak efektif maka ia khawatir hanya segelintir warga yang mau bercocok tanam, sehingga hamparan tanaman padi yang tidak seberapa itu hanya jadi makanan hama baik tikus maupun burung berbeda kalau ribuan hektar lahan itu tergarap seluruhnya maka akan meminimalisir serangan hama.

Saat ini bajak tangan yang dimiliki oleh desa Sebuai Barat berjumlah 15 unit dan 1 unit ekskavator mini milik pemerintah. Namun, alat mekanis pertanian tersebut juga tidak bisa digunakan karena lahannya masih penuh dengan akar-akar kayu."Harusnya pemerintah yang turun tangan untuk mengolahkan lahan walau kami tahu biayanya tidak sedikit, kalau petani yang disuruh untuk bekerja dengan manual dan tidak dibakar engga mampu," keluhnya.

Saat ini dengan harga kebutuhan sembako terutama beras yang begitu mahal, masyarakat Desa Sebuai Barat yang berjumlah 170 KK bersepakat untuk kembali menggarap lahannya, semangat tersebut harus menjadi perhatian pemerintah untuk mencarikan solusi terhadap hal ini. (ala/dar)