Selasa, Tanggal 27-03-2018, jam 02:26:26

Ribut Soal Utang Malaysia

Oleh Dahlan Iskan
Ribut Soal Utang Malaysia
Dahlan Iskan

TUMBEN ini terjadi. Seumur-umur baru kali ini utang luar negeri Malaysia diributkan.

Mungkin karena di sana juga segera Pemilu. Mungkin juga karena baru sekarang ini utang Malaysia mencapai 50 persen dari GDP.

Belum pernah rationya sebegitu tinggi. Jauh lebih tinggi dari utang Indonesia.

Mungkin juga ribut-ribut di sana itu sekadar karena ketularan keributan di Indonesia.

Waktu berobat di Singapura bulan lalu saya nyeberang ke Johor Bahru. Sambil menunggu jadwal dokter berikutnya. Sebulan lalu isu utang itu belum jadi kehebohan.

Yang ramai saat itu juga sama dengan yang lagi ramai di Indonesia: kehadiran proyek Tiongkok yang sangat masif. Dan dampaknya bagi perkembangan sosial.

Saya sempatkan keliling kota-kota baru di Johor Bahru. Seperti Iskandar City dan Forest City. Untuk menangkap suasana kebatinan di sana: mengapa proyek-proyek semacam itu jadi isu.

Sangat menarik. Tapi kali ini topiknya utang Malaysia. Bukan proyek Tiongkok di sana.

Berapa sih sebenarnya utang Malaysia yang diributkan itu?

Untuk ukuran kita jumlahnya tidak sampai sebesar ujung jari kelingking: 684 miliar ringgit. Kalikanlah 3.500. Hanya Rp 2.000 triliun.

Besar juga ya? Dan itu mencapai 51 persen GDP.

Size ekonomi Malaysia memang jauh lebih kecil dari Indonesia. Meski rata-rata pendapatan rakyatnya hampir empat kali lipat lebih tinggi dari pendapatan rakyat Indonesia. Data terakhir, 2016, income per kapita rakyat Malaysia adalah 11.000 dolar AS.

Di Malaysia perdebatannya bukan hanya soal besaran utang. Tapi juga bagaimana menyelesaikannya.

Mahathir Muhamad misalnya. Tokoh sentral oposisi saat ini, menunjukkan bukti. Pada zaman pemerintahannya bisa membangun begitu maju Malaysia. Tanpa utang yang menggunung. Tanpa proyek dari Tiongkok.

Kini tokoh yang sudah berusia 92 tahun itu memang ingin come back. Kalau Koalisi Harapan yang dipimpinnya menang pemilu Mahathir akan jadi perdana menteri lagi. Partai Tionghoa masuk dalam koalisi ini.

Mempersoalkan utang termasuk strategi mengalahkan koalisi UMNO yang kini memerintah. Dengan perdana menteri Najib Razak, putra Tun Razak yang legendaris.

Meski kini Mahathir turun tangan sendiri belum tentu Pakatan Harapan menang. Sang petahana telah mencengkeram semua kehidupan begitu dalamnya.

Kasus korupsi yang begitu besarnya, yang terbongkar sejak dua tahun lalu masih belum bisa menggoyahkan Najib. Rakyat Malaysia begitu permisif terhadap korupsi.

Misalnya sopir taksi di Johor Bahru ini. Ketika soal korupsi itu saya bicarakan dengannya sang sopir bersikap begini: Najib itu orang baik. Istrinyalah yang rakus.

Lantas dia menceritakan soal istri Najib panjang lebar.

Dia akan tetap pilih UMNO. Mahathir dianggap sudah terlalu tua. Juga tidak bersih-bersih amat.

Meski pers di Malaysia sangat tidak bebas toh masih banyak ocehan di media sosial. Termasuk dalam wujud humor.

Misalnya ini: Najib dan Mahathir masuk toko roti. Tidak beli apa-apa.

Sampai di luar Najib membanggakan diri. Bisa mencuri tiga roti tanpa ketahuan. Dia tunjukkan ke Mahathir tiga roti di dalam sakunya.

Mahathir mencela Najib. Mengapa harus mencuri.

Dia ajak Najib masuk toko roti lagi. Ingin menunjukkan bagaimana bisa dapat tiga roti tanpa mencuri.

Sampai di dalam, Mahathir bicara dengan pemilik toko. Disaksikan Najib. “Tolong beri saya tiga roti. Akan saya tunjukkan keajaiban tiga roti Anda,” ujar Mahathir.

Pemilik toko memberikan tiga roti itu. Mahathir memakannya satu persatu.

Habis. Tidak tampak ada keajaiban.

“Mana keajaibannya?” tanya penjual roti.

“Lihat! Tiga roti yang saya makan tadi sudah pindah ke saku teman saya ini!” (dis)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 16 Aug 18


Minggu, 12-08-2018 : 09:38:21
Kesadaran Petani terhadap Penggunaan Pestisida Alami

        Oleh  Dewi Ratnasari

       Penggunaan pestisida di lingkungan pertanian, ternyata menjadi momok bagi para penggun ... Read More

Sabtu, 11-08-2018 : 08:38:17
Dengan Hak Suara, Kini Kamilah Raja Diatas Raja

KINI saatnya kami berperan dan suara kami dibutuhkan sebagai kelangsungan berbangsa dan bernegara.

Sesungguhnya Keutuhan dan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indones ... Read More

Sabtu, 04-08-2018 : 11:59:07
Sampai Kapan Indonesia Ber-utang?

MENJADI tuan rumah IMF-World Bank Annual Meeting pada 12 – 14 Oktober 2018 merupakan kehormatan dan peluang bagi Indonesia. Kehormatan, karena Indonesia mendapat kepercayaan ... Read More

Rabu, 01-08-2018 : 02:42:40
Politik di Era Post Democracy

POLITIK itu harus menghadirkan cita cita bersama, berbagi ruang, berbagi kepentingan, berbagi nilai.

Demokrasi di Indonesia juga dengan perkembangan demokrasi dunia memas ... Read More