Rabu, Tanggal 28-03-2018, jam 02:32:59

Bulog Desa Bikin Bangga

Catatan Harian
Share
Bulog Desa Bikin Bangga
Dahlan Iskan terlihat bercengkerama dengan kaum ibu-ibu

SENIN kemarin saya tengok kampung: di Magetan. Tepatnya ke desa Tegalarum. Masih 16 kilometer dari kota Magetan. Tiba-tiba saya ingin ke makam ibu. Di desa tetangga, yang sudah masuk wilayah kabupaten Madiun. Rumput liar menguasai makam itu. Sampai bisa untuk alas duduk saat tahlil di dekat pusara.

Meski rumah di tempat kelahiran sudah tidak ada tapi masih banyak keluarga di desa itu. Kami pun ngobrol tentang masa lalu. Terutama tentang ibu saya. Yang meninggal saat saya berumur 11 atau 12 tahun. Tiba-tiba pula saya ingin ini: apakah mungkin masih ada orang yang menyimpan batik karya ibu saya. Maka orang-orang tua di desa kami sibuk mengingat-ingat: siapa yang dulu pernah meminta ibu untuk membikinkan batiknya.

Kesimpulannya: mereka minta waktu. Akan bertanya ke tetangga yang lebih jauh. Kami sendiri tidak menyimpan batik bikinan ibu. Tidak mungkin. Ibu hanyalah orang yang baru membatik kalau ada orang yang order. Itu pun yang memesan itu harus membawa kain putih sendiri. Umumnya kain mori.

Ibu juga tidak mampu beli malam, bahan yang kalau dipanaskan mencair, bahan utama batik. Ibu selalu minta sebagian upah dibayar di depan. Untuk beli malam. Dan soga; pewarna utama batik. Ibu tidak pernah kekurangan order. Sepanjang hari duduk di pembantikan. Saya, yang masih kecil, sering bermain di antara kain yang sedang dibatik.

Kadang, dari balik kain, jari saya mengikuti garis yang baru dilewati canting berisi malam cair. Ibu pernah bilang, sering juga menyusui saya sambil terus membatik. Semua yang pernah memesan batik pada ibu sudah meninggal. Kami harus menelusuri lewat keturunan mereka.

Dahlan Iskan berbincang dengan kerabatnya di Takeran, Senin, kemarin.Terakhir ibu membatik kira-kira tahun 1962. Sebelum sakit. Perutnya membesar. Berisi air. Tetangga bilang ibu saya kena santet. Dibawa ke dukun. Opname di rumah dukun. Akhirnya meninggal.

Saya belum mengerti apa-apa.Ternyata, seandainya pengetahuan saya saat itu seperti sekarang sakitnya ibu itu sepele sekali. Apalagi biayanya. Dokter Puskesmas pun bisa mengatasi.Mengapa ibu tidak punya warisan batik karyanya sendiri? Biar pun selembar? Ibu tiap hari memang mengenakan batik. Tanpa celana dalam.

Saya, sebagai anak kecil, juga selalu pakai sarung batik. Untuk ke masjid. Tapi juga selalu batik rombeng. Pernah saya sangat gembira mendapat sarung batik baru. Katanya, batik Lasem.Tapi begitu dicuci bolong-bolong. Rupanya itu batik rombeng yang dibatik ulang. Tentu setelah bolong-bolongnya dilem. Maka gagallah pakai sarung baru pada Lebaran hari itu.

Pulang kampung kali ini saya juga ketemu banyak petani. Tentu mereka berkeluh kesah. Tapi saya hanya mendengarkan. Tidak bisa menjanjikan perbaikan apa-apa.Yang hebat adalah ini: ada di antara penduduk desa di kecamatan Untoronadi yang bisa ikut mengatasi salah satu kesulitan petani itu. Saya dengarkan ceritanya dengan detil.

Saya anggap dia itu telah mau memerankan diri menjadi Bulog di desanya. Sekaligus menjadi bank tani yang diimpikan itu. Bahkan sekaligus menjadi dewa. Namanya Irwansyah. Umurnya 53 tahun.

Cara yang dia tempuh: saat panen tiba, dia bersedia membeli gabah petani yang harganya lagi anjlok. Tapi tidak beli putus. Masih ada hak petani di gabah yang dibelinya itu. Saat harga gabah sudah naik lagi, Irwansyah baru menjualnya. Hasil jualan itu diperhitungkan begini: dipotong dulu uang sudah pernah diterima, dipotong pula biaya pengeringan. Kelebihannya dikembalikan ke petani.

BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 24 Sep 18


Senin, 24-09-2018 : 09:04:40
Tragedi Prof Khaw dan Gas Bola Yoganya

Banyak sudah suami yang membunuh istri. Tapi yang dilakukan profesor ahli anestesi ini lain sekali.

Begitu ahlinya profesor ini. Hampir saja tidak terungkap sama sekali. Selama dua tahun ... Read More

Minggu, 23-09-2018 : 09:22:31
Gereja Itu Bernama Abbalove

Justru di Amerika. Minggu lalu. Saya baru tahu. Di Indonesia ada gereja bernama ini: Abbalove.

Saya tidak menyangka. Akan semeja di restoran Italia. Di Houston, Amerika. Makan malam bersa ... Read More

Sabtu, 22-09-2018 : 01:57:48
Penularan Sriracha untuk Tim Sukses

Sebelum berangkat, David Tran bikin keputusan bulat: keluarganya dibagi empat. Sama-sama mengungsi. Meninggalkan Vietnam.

Tapi tidak boleh berangkat dalam satu perahu. Di tahun 1975 itu. ... Read More

Jum`at, 21-09-2018 : 10:11:45
Sambal Oelek Sriracha

Apa pun nama restorannya sausnya pasti ini: Sriracha. Di kota mana pun. Di Amerika ini. Saya memang suka pilih Vietnam food. Terutama untuk makan siang. Terutama lagi di tengah perjalanan. ... Read More