Rabu, Tanggal 11-04-2018, jam 07:58:09
Empat Orangutan Dilepasliarkan ke Jantung Kalteng (1)

Shopia Latjuba dan Kaemita Boediono Masuk Hutan

Shopia Latjuba dan Kaemita Boediono Masuk Hutan
Shopia Latjuba melepaskan orangutan di hutan TNBBBR, Katingan, Kalteng. Di kawasan taman nasional ini, terdapat 75 individu orangutan yang telah dilepasliarkan BOSF Nyaru Menteng. (JAMIL/KALTENG POS)

Keberadaan Perusahaan Besar Swasta (PBS), perdagangan liar dan perburuan mengancam populasi orangutan Borneo. Demi menyelamatkan populasi satwa endemik Kalteng ini, rehabilitasi jadi salah satu solusi.

JAMIL JANUANSYAH, Katingan

SENYUM Shopia merekah. Ia girang setelah melihat Tari, orangutan berusia 5 tahun itu, keluar dari kandangnya. Apalagi, Shopia juga yang menarik pintu kandang. Bertambahlah rasa bahagia artis cantik ini.

Perlahan tangan perempuan kelahiran Berlin, Jerman, 8 Agustus 1970 ini membuka pintu kandang. Ia tidak ingin jari-jari tangan anak orangutan itu terjepit pintu kandang transport. Tari sudah beberapa kali mondar-mandir dalam kandang. Sesekali Tari mencengkeram pintu kandang besi bercorak hijau itu. Melompat-lombat di dalamnya. Dari bilik pintu kandang, mata Tari terlihat. Ia memandang ke pepohonan tepat berada di depan kandang.

Tari seolah sudah tak sabar menuju kebebasannya. Bebas ke hutan, habitat aslinya. Bebas dari kejaran para pemburu. Bebas dari eksploitasi lahan yang dilakukan PBS. Serta dapat kembali menyusuri hijaunya hutan ‘jantung’ Kalteng. Apalagi, sebelum direhabilitasi, Tari merupakan anak orangutan yang ditangkap oleh warga. Anak orangutan ini memasuki kawasan permukiman. Warga yang merasa kasihan, menangkap dan menyerahkan Tari ke Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Tari mesti menjalani proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan BOSF Nyaru Menteng, Palangka Raya.

Tari dibebaskan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Katingan, Kalteng. Kawasan konservasi yang dilindungi. Tari dan dua orangutan betina lainnya, Nabima (18) dan Hayley (13), serta satu individu orangutan jantan bernama Meong (13), menikmati habitat asli mereka, hutan.

Setelah Shopia membuka pintu kandang, Tari langsung berlari menuju ke popohonan. Ia memanjat. Bergelantungan. Menatap Shopia yang masih terdiam di posisinya semula. Duduk di atas kandang. Bergaya seperti duduk siap sebelum memulai lari estafet.

Shopia menatap Tari yang perlahan memanjat pepohonan. Tangannya mencengkeram batang pohon, Tari juga melihat ke arah Shopia. Tari dan Shopia saling beradu pandang.

Tingkah Tari yang bergelantungan di pohon menambah kebahagiaan Shopia. Apalagi, tujuan Shopia masuk ke hutan memang untuk menjaga populasi orangutan. “Ini pengalaman yang luar biasa. Ini yang pertama, mudahan gak terakhir,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Jika teringat perjalanan menuju ke TNBBBR, perjuangan Shopia terbayar tuntas. Sebab, Shopia beserta rombongan dari BOSF, Polda Kalteng, dan artis Kaemita Boediono sudah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. 16 jam waktu tempuh untuk sampai ke TNBBBR.

Perjalanan dari BOSF Nyaru Menteng di Jalan Tjilik Riwut Km 28 menuju ke TNBBBR dimulai malam hari. Waktu yang paling tepat untuk mengangkut orangutan. Sebab, sedikit kesalahan bisa berakibat fatal. Orangutan tidak boleh stres sepanjang perjalanan. Satwa endemik Kalteng ini juga tidak bisa jika mendengar kebisingan. Tiap 2 jam, tim akan berhenti untuk mengecek kesehatan Tari, Nabima, Hayley dan Meong. Sesekali keempat orangutan ini diberi minum.

Selasa (3/4) malam itu, rombongan yang menggunakan 12 kendaraan roda empat berangkat sekitar pukul 19.00 WIB. Rata-rata kendaraan yang digunakan merupakan dobel gardan. Lantaran akan melewati jalur tebing perbukitan. Jalan tanpa aspal yang diperuntukkan bagi kendaraan logging milik perusahaan kayu. Shopia dan Kaemita berangkat bersama rombongan BOSF. Kedua artis cantik ini menaiki mobil Fortuner. Sedangkan penulis bersama rombongan Polda Kalteng.

Dari Palangka Raya hingga Tumbang Kaman, Katingan, perjalanan terasa santai. Masih jalan beraspal. Laju kendaraan bisa mencapai 60 km/jam. Penulis pun sempat tertidur di sepanjang perjalanan.

Hingga tiba di Desa Tumbang Kaman. Kami harus melintasi Sungai Samba. Sungai dengan lebar sekitar panjang lapangan sepakbola itu, mesti dilewati dengan menggunakan feri penyeberangan. Alat transportasi yang menjadi penghubung antara Desa Tumbang Kaman dan Desa Tumbang Manggu. Feri ini ukurannya cukup luas. Bentuknya bukanlah seperti perahu melainkan seperti rumah. Hanya persegi empat dan tanpa dinding. Terbuat dari kayu Banuas dan Ulin. Satu feri cukup untuk mengangkut 2-3 mobil rombongan.

Tiba di Tumbang Manggu, perjuangan sesungguhnya baru dimulai. Dari sini, rombongan mesti melintasi jalur perbukitan. Jalannya tanpa aspal. Sejauh mata memandang hanya ada perbukitan, hutan dan jalan tanah liat yang becek setelah diguyur hujan.

Jika tidak hati-hati mengendarai, kendaraan bisa saja amblas. Bahkan, bisa menabrak tebing perbukitan. Atau, keluar dari jalur jalan dan jatuh ke jurang yang tingginya bisa sampai 5-10 meter.

Beruntung Brigadir Romondus Bayu dari Ditlantas Polda Kalteng, sudah piawai mengendarai Mobil Ranger, Ford, milik Polda Kalteng. Ia memacu kendaraan dengan kecepatan 10-20 km/jam. Kondisi jalan yang masih becek, memaksa mobil harus berjalan pelan. Meskipun begitu, mobil yang memiliki kemampuan turbo ini mampu menaklukkan jalan terjal itu. Di track lurus, mobil meliuk-liuk selayaknya ular. Lantaran jalannya yang licin dan kontur tanah perbukitan.

Kala itu, Bayu ditemani Briptu Husein yang juga dari Gakkum Polda Kalteng. Sepanjang perjalanan, kedua anggota polri ini terjaga. Bayu dan Husein sama-sama mempelototi jalan. Kendaraan yang penulis tumpangi merupakan kendaraan ke-11 dari arak-arakan rombongan. Kami berada di paling buncit. “Tenang saja mas. Walaupun jalannya begini, kami sudah ahli. Keselamatan penumpang dan pengendara merupakan prioritas kami,” ujar Bayu sembari menenangkan penulis. (*/ce/bersambung)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 22 Jul 18


Sabtu, 21-07-2018 : 07:10:14
Didik Nini Thowok Gabungkan Tarian Dayak dan Makassar

Festival Kampung Buntoi 2018 menghadirkan maestro tari nusantara, Didik Nini Thowok. Seniman yang menguasai ratusan gerakan tari dari berbagai belahan dunia ini, kembali hadir pada Festival Kampung ... Read More

Rabu, 18-07-2018 : 05:22:28
Partai Nomor Urut 10, Daftar Bacaleg pukul 10.10 di Pemilu yang ke-10

DPW PPP Kalteng telah mengukir kisah manis di Pilkada Serentak 2018 se-Kalteng. Menohok di posisi 3, PPP berhasil mengantarkan paslon kepala daerah yang diusung menuju ke singgasana kekuasaan. ... Read More

Minggu, 15-07-2018 : 06:45:38
Belajar Sama Tetangga dan Meraih Dua Medali

Siapa sangka Hiu Li Ing yang awalnya tak menyukai cabang olahraga catur, akhirnya sukses menjadi juara. Bahkan awal menggelutinya, ia hanya main-main biasa. Mengisi waktu luang saja. siapa sang ... Read More

Sabtu, 14-07-2018 : 08:10:47
Minim Biaya, Ingin Sembuh dan Menjadi Guru

Siska Perunika terbaring lemah di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya. Ia divonis menderita penyakit TBC otak. Dalam keterbatasan biaya, Siska bertekad untuk segera sembuh, dan menggapai cita-cita ... Read More